Selasa, 11 Desember 2012

Kerajaan Kalingga atau Kerajaan Holing



Kerajaan Kalingga atau Kerajaan Holing (640 M)

Letak pusat kerajaan ini belumlah jelas, kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Sima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.
Nama Holing sebenarnya muncul ketika terjadi perubahan dengan mulai meluasnya kekuasaan Wangsa Sailendra. Sebelum perluasan ini,
Berita Cina dari Dinasti Sung  menyebut Jawa dengan sebutan She-p’o.
Berita Cina dari Dinasti T’an menyebut Jawa dengan sebutan Ho-ling sampai tahun 818. Namun penyebutan Jawa dengan She-p’o kembali muncul pada 820-856 M.
Holing (Chopo) merupakan nama lain dari kerajaan Kalingga dan ibukota nya bernama Chopo (nama China), menurut bukti-bukti China pada abad 5 M.
Kerajaan kalingga atau holing  merupakan kerajaan yang terpengaruh oleh ajaran agama budha. Sehingga holing menjadi pusat pendidikan agama budha. Nama kerajaan Ho-ling sempat tercatat dalam kronik dinasti T’ang yang memerintah Cina pada 618-906 M. Menurut catatan kronik tersebut, penduduk Holing biasa makan tanpa menggunakan sendok atau cupit, melainkan dengan jari-jari tangannya saja, dan gemar minum semacam tuak yang mereka buat dari getah bunga pohon kelapa (aren). Ibukota Kerajaan Ho-ling dikelilingi pagar dari kayu.
Kerajaan Kalingga sendiri memiliki seorang pendeta yang terkenal bernama Janabadra. Sebagai pusat pendidikan Budha, menyebabkan seorang pendeta Budha dari Cina, menuntut ilmu di Holing (Kerajaan Kalingga). Pendeta itu bernama Hou Ei- Ning. Ia ke kerajaan Kalingga untuk menerjemahkan Kitab Hinayana dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina pada 664-665.

Ratu yang memerintah
Ratu sima (674-732)
Merupakan ratu yang paling terkenal di kerajaan kalingga atau holing,

Sudiwara

Rakai Panangkaran


Prasasti peninggalan Kerajaan kalingga atau Ho-ling
Yaitu Prasasti Tukmas. Prasasti Tukmas ditemukan di desa Dakwu daerah Grobogan, Purwodadi di lereng Gunung Merbabu  Jawa Tengah. Prasasti bertuliskan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta.
Makna dari Prasasti itu yaitu tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan  Hindu.
Mata pencaharian
Kerajaan Ho-ling mempunyai hasil bumiberupa kulit penyu, emas dan perak, cula badak dan gading. Ada sebuah gua yang selalu mengeluarkan air garam yang disebut sebagai bledug. Penduduk menghasilkan garam dengan memanfaatkan sumber air garam yang disebut sebagai bledug tersebut.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar